2026-01-05
admin

Bedah Algoritma KHGT: Kenapa Indikator Aplikasi Valid (Hijau), tapi Keputusan Resmi Ditolak?

Pengembang aplikasi falak, waspadai perbedaan hasil hisab Ramadan 2026! Kode Anda benar, tapi mengapa Turki menolak? Ternyata ada 'parameter siluman' non-astronomi.
Bedah Algoritma KHGT: Kenapa Indikator Aplikasi Valid (Hijau), tapi Keputusan Resmi Ditolak?

Bagi para pengembang aplikasi falak atau programmer yang menggunakan library astronomi (seperti PyEphem, Skyfield, atau script Python kustom), kasus awal Ramadan 1447 H (2026 M) menyajikan studi kasus yang sangat menarik.

Jika Anda menjalankan simulasi algoritma KHGT sesuai parameter Kongres Istanbul 2016, indikator untuk tanggal 17 Februari 2026 pasti menunjukkan warna "HIJAU" (Valid). Namun, otoritas Turki (Diyanet) memutuskan sebaliknya. Apakah kode kita buggy?

1. Algoritma vs. Kebijakan Secara matematis, script astronomi Anda bekerja dengan benar. Algoritma standar KHGT memeriksa tiga parameter fisik:

  1. Ketinggian Hilal: > 5 derajat.
  2. Elongasi: > 8 derajat.
  3. Waktu: Ijtima terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.

Data astronomis menunjukkan bahwa wilayah Alaska Barat memenuhi ketiga syarat angka tersebut secara presisi. Oleh karena itu, output logic pemrograman adalah TRUE.

2. Parameter "Siluman": Population Density Penyebab "error" antara hasil kodingan dan keputusan lapangan adalah variabel yang tidak ada dalam rumus Jean Meeus atau library NASA manapun: Demografi.

Turki menolak validitas data Alaska karena wilayah tersebut dianggap "tidak padat penduduk". Ini adalah filter kebijakan (policy filter), bukan filter astronomi. Dalam dunia programming, ini ibarat fungsi tambahan yang di-injeksi secara manual di luar logika inti sistem:

Python


# Pseudo-code logika keputusan Turki 2026
if moon_is_visible(alaska):
    if population_density(alaska) > threshold:
        return "1 Ramadan Besok"
    else:
        return "Istikmal (Tolak)" # <--- Ini yang terjadi

Sementara itu, Muhammadiyah tetap pada algoritma murni ("Raw Algorithm") sesuai kesepakatan tertulis tahun 2016 yang tidak memuat variabel populasi.

3. Geosentrik sebagai Simplifikasi Isu lain bagi developer adalah penggunaan koordinat. KHGT versi Muhammadiyah menggunakan pendekatan Geosentrik. Bagi developer, ini menyederhanakan komputasi karena tidak perlu menghitung paralaks untuk setiap titik koordinat pengamat di bumi (Toposentrik).

Meskipun secara sains observasi Toposentrik lebih akurat menggambarkan "apa yang dilihat mata", pendekatan Geosentrik dipilih untuk kemudahan administrasi kalender global yang bersifat tunggal (One Day One Date).

Kesimpulan untuk Developer Jika aplikasi Anda menunjukkan indikator Turki "Hijau" untuk Ramadan 2026, Anda tidak perlu mengubah rumus dasar astronomi Anda. Aplikasi Anda sudah benar secara hisab.

Perbedaan hasil terjadi karena adanya override kebijakan manusia (ijtihad) yang memasukkan parameter sosial ke dalam keputusan sains. Sebagai solusi, Anda bisa menambahkan fitur catatan kaki atau disclaimer pada aplikasi bahwa validitas astronomis dapat dianulir oleh kebijakan otoritas setempat.

blog artificial-intelligence teknologi admin

Artikel Terkait