Ramadan 1447 H (2026 M): Mengapa KHGT Muhammadiyah Berpotensi Beda Tanggal dengan Turki dan Pemerintah?
Tahun 2026 (1447 Hijriah) diprediksi akan menjadi momen krusial bagi penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sebuah anomali menarik terjadi: Muhammadiyah yang mengadopsi KHGT justru berpotensi menetapkan awal Ramadan berbeda dengan Turki, negara yang menjadi rujukan konsep kalender global tersebut.
Mengapa "Satu Kalender Global" bisa menghasilkan dua tanggal berbeda? Mari kita bedah secara objektif.
1. Akar Masalah: "Hilal di Ujung Dunia" Perbedaan ini bermula dari posisi bulan pada tanggal 17 Februari 2026. Secara astronomis, kriteria ketampakan hilal (imkanur rukyat) terpenuhi di wilayah yang sangat spesifik: bagian barat Alaska (Amerika Serikat).
Menurut prinsip One Day One Date (Satu Hari Satu Tanggal), jika hilal terlihat di satu titik di muka bumi sebelum fajar di Selandia Baru, maka seluruh dunia memasuki bulan baru. Berdasarkan prinsip ini, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
2. Langkah "Mundur" Turki (Diyanet) Turki, melalui Diyanet, dikabarkan menolak hasil hisab di Alaska tersebut. Alasannya bukan karena hitungan astronominya salah, melainkan karena faktor non-astronomi: Kepadatan Penduduk.
Wilayah Alaska tempat hilal "terlihat" (seperti Hooper Bay dan Chevak) dianggap terlalu terpencil dan minim penduduk. Turki menerapkan kebijakan diskresi bahwa rukyat harus terjadi di wilayah yang wajar untuk dihuni. Akibatnya, Turki menggenapkan bulan Sya'ban dan menetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026 (sama dengan prediksi Pemerintah RI/MABIMS).
3. Perdebatan Teknis: Geosentrik vs. Toposentrik Selain masalah lokasi, Prof. Thomas Djamaluddin (BRIN) menyoroti perbedaan metode hisab.
- KHGT Muhammadiyah: Cenderung menggunakan perhitungan Geosentrik (posisi bulan dilihat dari pusat bumi) untuk menjaga konsistensi sistem kalender jangka panjang.
- Turki & Pemerintah RI: Menggunakan Toposentrik (posisi bulan dilihat dari permukaan bumi).
Pada kasus 2026, koreksi toposentrik (efek paralaks) membuat posisi bulan terlihat lebih rendah di mata pengamat dibanding hitungan geosentrik. Hal ini memperkuat alasan Turki untuk menolak klaim keterlihatan hilal di tahun tersebut.
Kesimpulan Perbedaan di tahun 2026 bukanlah kesalahan hitung, melainkan perbedaan dalam memegang teguh kriteria. Muhammadiyah memilih konsisten pada perjanjian awal Kongres Turki 2016 (tanpa syarat jumlah penduduk), sementara Turki memilih pragmatis dengan menambahkan syarat demografis. Keduanya memiliki landasan yang valid dalam ijtihad masing-masing.